Selamat datang di Mahligai Hidup.
Sebuah rumah kesederhanaan.
Sederhana dalam penampilan, dalam pengekspresian, dan juga dalam pemahaman.
Dan seluruh kesederhanaan ini mudah-mudahan mengalir menuju lautan kebahagiaan.
Sabtu, April 25, 2009
SI JAMIN
Akhirnya,.... si Jamin pulang kampung ke Ranah Minang. Kampung halaman ayahnya. Walaupun si Jamin ada campuran darah Jawa, tapi entah kenapa dia lebih merasa sebagai orang Minang.
Besar sekali keinginan si Jamin untuk disunat di kampung. Ayah ibunya tak mampu melunakkan kekerasan hatinya. Dua tahun lamanya ia menahan keinginan itu. Tahun ini dia mendesak ayahnya untuk melaksanakan niat tersebut.
Pagi itu si Jamin diantar ayah ibunya mengunjungi makam nenek dan inyiaknya. Mulut si Jamin kumat kamit membaca doa, seolah minta restu dari mereka berdua.
Sepulang dari makam, si Jamin mengajak ayah ibunya untuk makan siang di Lapau langganan dekat pasar. "Nasi jo kuah gulai ayam sajo, yoo Mak," pintanya kepada pemilik Lapau. Si Jamin makan dengan lahap. Entah karena memang sedang lapar, atau karena gelisah menghadapi waktu yang sudah semakin dekat untuk disunat.
Telah kenyang perut si Jamin. Dengan yakin dia melangkah berkalungkan kain sarung kotak-kotak yang khas bau harumnya, menuju ke rumah sakit.
Diiringi Takbir dan Dua Kalimah Shahadat, si Jamin tenang melalui semua proses itu. Ketegaran terpancar dari wajahnya yang tampan. Seolah lepas sudah semua beban janji hatinya. Kini dia siap untuk memasuki masa remaja.
Bagai tentara yang menang dalam perang, dia melangkah gagah memegang ujung sarungnya, pulang ke rumah nenek. Terkejut si Jamin, ternyata di sana sudah menunggu beberapa sanak saudara ayahnya. Sambil tersenyum malu-malu, dia menerima ucapan selamat dari mereka. Makin merona warna pipi si Jamin ketika menerima uang hadiah yang diselipkan ke tangannya.
Girang hati si Jamin menerima semua itu.
Kabar si Jamin disunat langsung menyebar ke seluruh kampung. Kerabat dan sahabat-sahabat ayahnya silih berganti berkunjung melihat si Jamin. Bak pengantin, dia didudukan di pelaminan. Ada yang datang membawa ayam jago, beras, buah-buahan, dan makanan. Dan tentu saja uang hadiah. Wah...makin berseri-seri wajah si Jamin.
Setelah semua tamu kerabat dan handai taulan berangsur pulang, si Jamin mulai menghitung pundi-pundi uangnya. Lumayan banyak uang hadiah yang dia dapat. Ayah ibunya memperhatikan dari balik tirai kamarnya. Terlihat anaknya tersenyum sendiri dan mengangguk. Entah apa rencana yang ada di benak si Jamin.
Tak lama kemudian, si Jamin datang menghampiri ayah ibunya sambil membawa kantong berisi uang hadiah tadi dan menyerahkannya.
"Untuk diapakan uang ini, Nak?" tanya ayahnya. "Untuk memperbaiki makam Nenek, Ayah," jawab si Jamin dengan senyumnya yang khas.
Terjawab sudah pertanyaan kenapa si Jamin ingin disunat di kampung.
Malam itu si Jamin tertidur pulas dan bermimpi berada dalam pelukan nenek setelah kekenyangan makan Gulai Otak masakan nenek...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)















Tidak ada komentar:
Posting Komentar