Selamat datang di Mahligai Hidup.

Sebuah rumah kesederhanaan.
Sederhana dalam penampilan, dalam pengekspresian, dan juga dalam pemahaman.
Dan seluruh kesederhanaan ini mudah-mudahan mengalir menuju lautan kebahagiaan.



Rabu, April 29, 2009

"KEMENAKAN DEN.....!" (bag.1)


Pintu rumah itu pun terbuka. Sosok yang begitu aku kenal berdiri di hadapanku. Kepulan asap rokok kretek itu hampir menutupi seluruh wajahnya yang semakin tua. Kupeluk tubuh renta itu. Tubuh yang tidak sekekar dulu. Dibawanya aku masuk ke ruang duduk, ruangan yang tidak pernah berubah sejak aku kecil.


Mamak, adik laki-laki Amak, mulai dimakan usia. Tinggal di rumah panggung hanya dengan etek dan putri bungsunya. Tiga anak mamak yang lain sudah punya kehidupan sendiri.

Sesaat pikiranku melayang ke masa lalu. "Kemenakan Den...!, kemenakan Den...!" begitu teriak mamak sambil menepuk dadanya dengan bangga, ketika aku kecil berhasil mengukir prestasi Khatam Quran.

Mamak senang sekali mendongeng. Dongeng yang selalu sama, yaitu tentang pergalamannya mendampingi perjuangan Buya. Kadang bosan juga mendengarnya. Tapi, setiap selesai mendengar dongeng mamak, akan selalu terselip perasaan haru mengenang sosok Buya tercinta.

Suara mamak berbicara itu tidak pernah pelan, menggelegar kedengarannya. Semua orang dan sahabat-sahabatnya di pasar tahu, bahwa walaupun suaranya keras tapi hatinya lembut. Mereka menaruh hormat kepada mamak. Selain sebagai pemuka adat, beliau juga seorang pendekar yang sangat disegani. Mamak juga senang menurunkan ilmunya kepada orang-orang yang bisa dipercaya. Alhamdulillah mamak juga mau membagi sedikit ilmu beladirinya kepadaku, keponakan kesayangannya...

Tidak ada komentar: