Selamat datang di Mahligai Hidup.

Sebuah rumah kesederhanaan.
Sederhana dalam penampilan, dalam pengekspresian, dan juga dalam pemahaman.
Dan seluruh kesederhanaan ini mudah-mudahan mengalir menuju lautan kebahagiaan.



Kamis, April 30, 2009

"KEMENAKAN DEN.....!" (bag.2)

Tepukan halus di bahuku membuyarkan lamunan. Kupandangi wajah mamak, sekilas kulihat bayangan wajah Amak almarhum. Kutanyakan kabar kesehatan mamak. "Mamak menyerah sekarang, mamak harus menurut nasihat dokter,"jawabnya. Serangan berulang penyakit Diabetes kali ini mampu mengalahkan kekerasan hati beliau. Penyakit yang nyaris membuat mamak kehilangan satu telapak kakinya.

Rokok kedua sudah dinyalakan. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. "Rokok tidak menyebabkan kadar gulaku naik," katanya. Etek dan anak-anak mamak sudah kehabisan akal menasihatnya. Mamak menceritakan bahwa sekarang beliau tidak mampu berjalan kemana-mana sendiri, harus ada yang mendampingi. Tapi aku kenal betul siapa mamak, lebih memilih untuk tinggal di rumah daripada harus merepotkan orang lain.

Mamak membiayai hidup dari uang pensiunan. Etek masih aktif sebagai ketua PKK. PKK yang dipimpin etek beberapa kali mendapat penghargaan dari kepala daerah. Mamak bangga sekali dengan prestasi yang diukir etek. Sampai-sampai dikabarkan berita itu ke seluruh kemenakan yang ada di Jakarta.

Aku ingin sekali membawa mamak berobat ke Jakarta. Tapi selalu aku mendapat jawaban yang sama,"Biarlah mamak menikmati hari-hari tua mamak di kampung.Tugas mamak menjaga kalian sudah hampir selesai. Mamak sudah ikhlas kapanpun Allah memanggil mamak." Kami pun saling bertatapan, lama... sekali. Seolah mencoba menyelami dalamnya hati kami masing-masing. Sorot matanya yang tajam, masih setajam dulu, menatapku penuh kasih. Hanya aku yang dapat menyimpulkannya...

Rabu, April 29, 2009

"KEMENAKAN DEN.....!" (bag.1)


Pintu rumah itu pun terbuka. Sosok yang begitu aku kenal berdiri di hadapanku. Kepulan asap rokok kretek itu hampir menutupi seluruh wajahnya yang semakin tua. Kupeluk tubuh renta itu. Tubuh yang tidak sekekar dulu. Dibawanya aku masuk ke ruang duduk, ruangan yang tidak pernah berubah sejak aku kecil.


Mamak, adik laki-laki Amak, mulai dimakan usia. Tinggal di rumah panggung hanya dengan etek dan putri bungsunya. Tiga anak mamak yang lain sudah punya kehidupan sendiri.

Sesaat pikiranku melayang ke masa lalu. "Kemenakan Den...!, kemenakan Den...!" begitu teriak mamak sambil menepuk dadanya dengan bangga, ketika aku kecil berhasil mengukir prestasi Khatam Quran.

Mamak senang sekali mendongeng. Dongeng yang selalu sama, yaitu tentang pergalamannya mendampingi perjuangan Buya. Kadang bosan juga mendengarnya. Tapi, setiap selesai mendengar dongeng mamak, akan selalu terselip perasaan haru mengenang sosok Buya tercinta.

Suara mamak berbicara itu tidak pernah pelan, menggelegar kedengarannya. Semua orang dan sahabat-sahabatnya di pasar tahu, bahwa walaupun suaranya keras tapi hatinya lembut. Mereka menaruh hormat kepada mamak. Selain sebagai pemuka adat, beliau juga seorang pendekar yang sangat disegani. Mamak juga senang menurunkan ilmunya kepada orang-orang yang bisa dipercaya. Alhamdulillah mamak juga mau membagi sedikit ilmu beladirinya kepadaku, keponakan kesayangannya...

Sabtu, April 25, 2009

SI JAMIN


Akhirnya,.... si Jamin pulang kampung ke Ranah Minang. Kampung halaman ayahnya. Walaupun si Jamin ada campuran darah Jawa, tapi entah kenapa dia lebih merasa sebagai orang Minang.
Besar sekali keinginan si Jamin untuk disunat di kampung. Ayah ibunya tak mampu melunakkan kekerasan hatinya. Dua tahun lamanya ia menahan keinginan itu. Tahun ini dia mendesak ayahnya untuk melaksanakan niat tersebut.

Pagi itu si Jamin diantar ayah ibunya mengunjungi makam nenek dan inyiaknya. Mulut si Jamin kumat kamit membaca doa, seolah minta restu dari mereka berdua.
Sepulang dari makam, si Jamin mengajak ayah ibunya untuk makan siang di Lapau langganan dekat pasar. "Nasi jo kuah gulai ayam sajo, yoo Mak," pintanya kepada pemilik Lapau. Si Jamin makan dengan lahap. Entah karena memang sedang lapar, atau karena gelisah menghadapi waktu yang sudah semakin dekat untuk disunat.

Telah kenyang perut si Jamin. Dengan yakin dia melangkah berkalungkan kain sarung kotak-kotak yang khas bau harumnya, menuju ke rumah sakit.

Diiringi Takbir dan Dua Kalimah Shahadat, si Jamin tenang melalui semua proses itu. Ketegaran terpancar dari wajahnya yang tampan. Seolah lepas sudah semua beban janji hatinya. Kini dia siap untuk memasuki masa remaja.

Bagai tentara yang menang dalam perang, dia melangkah gagah memegang ujung sarungnya, pulang ke rumah nenek. Terkejut si Jamin, ternyata di sana sudah menunggu beberapa sanak saudara ayahnya. Sambil tersenyum malu-malu, dia menerima ucapan selamat dari mereka. Makin merona warna pipi si Jamin ketika menerima uang hadiah yang diselipkan ke tangannya.
Girang hati si Jamin menerima semua itu.

Kabar si Jamin disunat langsung menyebar ke seluruh kampung. Kerabat dan sahabat-sahabat ayahnya silih berganti berkunjung melihat si Jamin. Bak pengantin, dia didudukan di pelaminan. Ada yang datang membawa ayam jago, beras, buah-buahan, dan makanan. Dan tentu saja uang hadiah. Wah...makin berseri-seri wajah si Jamin.

Setelah semua tamu kerabat dan handai taulan berangsur pulang, si Jamin mulai menghitung pundi-pundi uangnya. Lumayan banyak uang hadiah yang dia dapat. Ayah ibunya memperhatikan dari balik tirai kamarnya. Terlihat anaknya tersenyum sendiri dan mengangguk. Entah apa rencana yang ada di benak si Jamin.
Tak lama kemudian, si Jamin datang menghampiri ayah ibunya sambil membawa kantong berisi uang hadiah tadi dan menyerahkannya.
"Untuk diapakan uang ini, Nak?" tanya ayahnya. "Untuk memperbaiki makam Nenek, Ayah," jawab si Jamin dengan senyumnya yang khas.

Terjawab sudah pertanyaan kenapa si Jamin ingin disunat di kampung.
Malam itu si Jamin tertidur pulas dan bermimpi berada dalam pelukan nenek setelah kekenyangan makan Gulai Otak masakan nenek...

Jumat, April 24, 2009

SATU RINDU....UNTUK SEMUA IBU di DUNIA

Hujan, kau ingatkan aku tentang satu rindu
Di masa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamanya

Reff : Terbayang satu wajah
Penuh cinta, penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau Ibu...
Oh...Ibu...

Allah,
Ijinkanlah aku bahagiakan dia
Meski dia tlah jauh...
Biarkanlah aku
Berbakti untuk dirinya
Oh...Ibu...
Oh...Ibu...
Kau...Ibu...

(Lirik lagu "Satu Rindu" - Opick feat Amanda)

Semoga Allah mencatat setiap pengorbanan, setiap rasa syukur, setiap keikhlasan semua Ibu di dunia dan memberi mereka kebaikan yang berlimpah.
Amin...

Kamis, April 23, 2009

RENUNGAN 8


TAFAKUR

Bila kita renungkan, setiap detik dalam hidup ini adalah Mukjizat.
Bagaimana kita bisa bernafas,jantung yang berdetak, mata yang bisa berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang bisa merasakan kenikmatan makanan, dll. Semuanya itu adalah Mukjizat.
Pada saat salah satu nikmat yang Allah berikan diambil, kita baru menyadari betapa bernilainya karunia Allah itu.
Bertafakur, merenung, atau berpikir, merupakan pelita hati. Marilah kita bertafakur sejenak, untuk mendapat pencerahan jiwa.

CHILDREN ARE FROM HEAVEN

Click to play this Smilebox slideshow:
Create your own slideshow - Powered by Smilebox
Make a Smilebox slideshow

Selasa, April 21, 2009

TERSENYUMLAH ! TERTAWALAH !





SENYUM atau TAWA itu laksana obat bagi kesedihan.
TERSENYUM punya pengaruh yang kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia.

TERTAWA itu merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung dari rasa suka cita.
Namun, sebaiknya tertawa yang tidak berlebihan, yang sewajarnya saja. Karena terlalu banyak tertawa juga bisa membutakan hati.

Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini adalah orang yang bukan saja mampu membahagiakan dirinya sendiri tapi ia juga mampu menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Minggu, April 19, 2009

ZERO




Kami berempat berbincang di dalam lift tentang latihan yang kami lakukan tadi.
Salah seorang dari kami berkata," Biasanya pelatih itu paling malas untuk melatih anak yang masih terlalu kecil atau orang dewasa yang sudah dewasa sekali. Tapi ternyata kami bisa melakukannya dengan baik ya." "Iya, karena sebenarnya masing-masing orang punya potensi, bakat yang terpendam," tambah yang lain. "Jadi dengan sedikit polesan, bisa langsung dikemas dengan baik."

Dalam perjalanan pulang kami merenung lagi.
Kenapa kami bisa langsung kompak dan bisa mengikuti semua gerakan, padahal baru pertama kali ini kami latihan?
Ternyata karena kami semua berada dalam kondisi ZERO.
Kami melepaskan semua "atribut" yang ada dalam diri kami. Jabatan,pekerjaan, usia, materi, dll, kami tanggalkan dan menyatu dalam suatu kegembiraan.
Dari situ otomatis akan muncul rasa persamaan, kerjasama, dan tanggung jawab.
Ini semua berawal karena kami ingin melakukan yang terbaik untuk Alumni SMA 1 Bukittinggi.
Go TeamHigh Five

Rabu, April 15, 2009

KEDAMAIAN




Lihat pepohonan rimbun di sana.
Siapa saja yang berteduh, pasti merasa teduh. Pohon tidak bertanya, tidak memilih, dan tidak berdebat. Kalau berteduh di bawah pohon, ya teduh.
Seperti mau mengajarkan, kurangi bertanya, kurangi memilih, dan kurangi berdebat.
Karena itulah awal kedamaian.
(Gde Prama)

CATATAN HATI





"Dinda, apakah Kau tahu bahwa Allah pernah menjanjikan puluhan bidadari untuk laki-laki yang beriman saat di surga nanti? Aku tidak ingin bidadari-bidadari itu, Dinda. Yang aku ingin hanya dirimu. Aku ingin menjadi suamimu di dunia dan di akhirat nanti. Kan kupersembahkan Mahligai Hidup ini agar kita bisa selamanya bersama, lebih lama dari selamanya..... Amiinn.."

Dan perempuan itu pun tersenyum. Senyumnya menjadi abadi, ketika kau ambil tangannya dan kau letakkan di jantungmu...

Senin, April 13, 2009

OBROLAN SENJA






Lansia, seringkali kita menganggap bahwa Lansia itu adalah masa dimana kita tidak lagi kreatif dan produktif. Bahkan tidak sedikit pula yang menganggap masa tua tersebut sebagai beban bagi orang lain.

Berdasarkan survey, dari beberapa orang terkaya di Indonesia, 80% tersebut usianya telah mencapai 50-60 tahun bahkan lebih. Berarti mereka telah memasuki usia lanjut.
Dan dari seluruh lansia yang ada di Indonesia, sebagian besar di antaranya masih memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sebuah keluarga.

Mahligai Hidup bertujuan untuk menjadikan para sahabat yang sudah masuk dalam katagori usia lanjut, tetap berkualitas, mandiri, produktif & berguna bagi dirinya sendiri,agama, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Alumni SMA 1 Bukittinggi, keluarga Mahligai Hidup, usia senja bukan merupakan halangan bagi mereka untuk terus maju dan berkarya.

OBROLAN SORE






Ini cerita tentang obrolan 4 orang kakek di beranda sebuah panti;

Kakek A : "Sudah tua begini terasa benar ya kalau kita ini jadi mudah lupa. Saya itu
kalau sedang di tangga suka lupa, apakah saya ini mau naik atau mau turun ya?"

Kakek B : "Iya, saya juga sudah mulai pikun. Masa waktu duduk di tempat tidur
saya ngga ingat sama sekali, saya ini baru bangun atau mau tidur ya?"

Kakek C : "Saya lebih parah lagi. Setiap kali berdiri di depan pintu, saya selalu
bingung, saya mau masuk atau mau keluar ya?"

Kakek D : "Aahh..kalian ini, pikun gitu kok dipamerin sich! Kayak aku dong...,
ingatanku masih sangat kuat, sekuat kursi ini !" (sambil mengetuk kursi
kayu yang didudukinya..tok..tok..tok..).
Tapi...begitu mendengar suara ketukan..tok tok tok..., Kakek D langsung menyahut; " Yaa....,siapa di situ? Silahkan masuk....!"
Fainting

Kakek A,B,C, dan D, tidak tinggal di Rumah Mahligai Hidup....

Sabtu, April 11, 2009

RENUNGAN 7

JALAN MENUJU KEINDAHAN

Seekor anak kerang di dasar laut mengeluh pada ibunya. Sebutir pasir tajam masuk ke dalam tubuhnya yang lunak. "Anakku, Allah tidak memberi kita tangan, sehingga ibu tidak bisa menolongmu. Ibu tahu, itu sakit, tapi terimalah sebagai takdir. Kuatkan hati, kerahkan semangat melawan nyeri yang menggigit. Balut pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat," kata ibunya dengan sendu dan lembut sambil menitikan air mata. Anak kerang pun menurut. Kadang rasa sakit begitu hebatnya, sehingga ia sempat meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata, ia bertahan, tidak hanya dalam hitungan hari tapi dalam hitungan tahun. Tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama semakin halus, rasa sakit akhirnya menghilang sama sekali.
Sekarang...sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal terbentuk dengan sempurna. Penderitaan dan kesabarannya membuahkan hasil yang menakjubkan. Dirinya kini menjadi sangat berharga.
Shell 2

Kamis, April 09, 2009

PEMILU 2



"Apa yang didengar, cepat lupa.(janji-janji Caleg)
Apa yang dilihat sebagian ingat.(foto-foto Caleg)
Apa yang dilakukan penuh AMANAH, pasti menyentuh..."(Caleg
yang Istiqamah)

PEMILU 1




PEMILU...oh...PEMILU

Di saat semua rakyat Indonesia merayakan Pesta Demokrasi 5 tahunan, ada beberapa dari kami yang kurang beruntung, tidak bisa ikut berpartisipasi karena tidak masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap). Padahal sudah dari jauh-jauh hari ditanyakan ke aparat setempat, tapi sampai hari terakhir tidak dapat undangan, akhirnya terpaksa menjadi Golput (Golongan Putih). Sedih rasanya harus kehilangan hak pilih, apalagi peristiwa ini hanya terjadi 5 tahun sekali. Apakah 5 tahun yang akan datang kami masih bisa berpartisipasi??? Akhirnya yang kami lakukan hari ini adalah memantau ke beberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara). Sepertinya Pemilu tahun ini cukup berjalan lancar dan aman. Walaupun kami hanya bisa melihat dari jauh proses pemungutan suara, terselip doa dan harapan kami agar para wakil rakyat yang terpilih bisa tetap AMANAH pada saat mereka menjabat nanti.

Rabu, April 08, 2009


Sepasang orang tua yang menggunakan hidupnya sebagai warisan paling berguna berpesan :
"Tidak sombong ketika di atas, tidak sedih tatkala di bawah,
itulah kebahagiaan yang paling mencerahkan."

RENUNGAN 6

HASRAT MENGUBAH DIRI

Ketika aku masih muda,
aku bermimpi untuk mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-citaku pun agak kupersempit,
kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya itupun tiada hasilnya...

Ketika usia senja mulai kujelang,
lewat upaya terakhir tanpa pernah putus asa,
kuputuskan untuk mengubah hanya keluargaku, yaitu orang-orang yang paling dekat denganku.

Namun alangkah terkejutnya aku,
ternyata merekapun tak kunjung berubah...

Dan kini,
baru kusadari...
"Andaikan yang pertama-tama kuubah dulu adalah diriku sendiri,
maka lewat memberi contoh sebagai seorang panutan,
mungkin keluargaku bisa kuubah.
Dan berkat inspirasi dan dukungan mereka,
aku akan mampu memperbaiki negeriku.
Dan siapa tahu,
aku juga bisa mengubah dunia!"
(Sentuhan Kalbu)

Minggu, April 05, 2009

ARISAN ALUMNI SMA 1 BUKITTINGGI







Siang tadi kami berkumpul di rumah Uda Idhaman dan Uni Vita di daerah Tangkerang, Pekanbaru. Alhamdulillah cukup banyak yang datang. Alumni yang biasanya berhalangan datang, hari ini bisa meluangkan waktu mereka. Rencana perintisan Mahligai Hidup menjadi salah satu topik yang dibicarakan. Ditambah presentasi dan ilustrasi gambar oleh Uda Syafril yang luar biasa, membawa lamunan kami melayang ke Rumah Impian kami di masa depan. Sebuah rumah di lokasi pedesaan, di sini tampak Gunung Merapi, di sana tampak Gunung Singgalang. Gemericik air mengalir, kicauan burung, hembusan angin segar membawa harumnya padi yang menguning. Rumah dimana kami akan tinggal menghabiskan masa emas kami, dekat dengan sahabat-sahabat yang sehati dan sejiwa. Kami bisa berkebun, bercocok tanam, memelihara ikan, bebek, itik, ayam, sapi...dan tentu saja makin mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta kegiatan-kegiatan positif lainnya yang mungkin pada saat kami masih berkarya dulu belum sempat kami lakukan. Di sana kami akan terus belajar dan berkarya, belajar memberi dan menerima, serta bersahabat dengan alam dan masyarakat sekitar. Rumah yang kami miliki bersama, tempat kami bernostalgia, memutar ulang kenangan manis di masa sekolah dulu. Rumah ini akan menjadi "babak prakualifikasi" kami untuk menuju tempat tinggal kami sebenarnya, yaitu di akhirat nanti. Aahh....ingin rasanya kami cepat mewujudkan impian kami ini. Mudah-mudahan Allah meridhoi niat kami. Amin.

Kamis, April 02, 2009

Click to play this Smilebox scrapbook:
Create your own scrapbook - Powered by Smilebox
Make a Smilebox scrapbook

RENUNGAN 5


KISAH TAULADAN

Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. sambil berkata :"Ya Rasulullah! Saya datang untuk melakukan bai'at berhijrah, dengan meninggalkan kedua orang tua saya yang menangis."
Rasulullah saw.pun menjawab :"Kembalilah kepada kedua orang tuamu itu. Gembirakanlah mereka sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis!"

Di lain kesempatan, ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. :"Ya Rasulullah! Saya ingin sekali berjihad, tetapi saya tidak mampu."
Rasulullah menjawab :"Apakah masih ada salah seorang dari orangtuamu?"
"Ya,"sahut orang itu.
Maka bersabdalah Rasulullah saw :"Jumpailah Allah SWT dengan berbakti kepada orang tuamu. Apabila engkau telah melakukannya, maka samalah artinya dengan engkau berHaji, berUmrah, dan berJihad."