Dengan berat hati aku permisi pulang. Mamak memelukku erat...sekali, seolah enggan untuk melepaskanku.Aku pun demikian. Pelukannya yang erat serasa pelukan yang terakhir. Karena kami berdua tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kutinggalkan rumah mamak tanpa menoleh lagi ke belakang.
***
Satu tahun berselang, aku berdiri lagi di depan pintu rumah mamak. Pandanganku menyapu ke seluruh sudut ruangan. Suasana tampak sedikit berbeda. Meja kursi dipinggirkan, karpet terbentang memenuhi ruangan. Beberapa kerabat tampak di sana, melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Yasin. Kutemukan wajah etek di antara mereka, menatapku lembut. Kuhampiri dan kurengkuh tubuh kecilnya ke dalam pelukanku. Tiada air mata di wajahnya, yang ada hanya senyuman, senyum keikhlasan.
Saat kumelangkah meninggalkan rumah mamak malam itu, kehangatan angin malam seolah mengiringiku pergi.Memberikan perlindungan yang tidak pernah berhenti. Dimanapun dan sampai kapanpun. Akan kupegang amanah yang pernah mamak berikan. Karena aku tahu, di "sana" pun mamak akan selalu berteriak bangga,"Kemenakan Den...!, kemenakan Den...!"















Tidak ada komentar:
Posting Komentar