Selamat datang di Mahligai Hidup.
Sebuah rumah kesederhanaan.
Sederhana dalam penampilan, dalam pengekspresian, dan juga dalam pemahaman.
Dan seluruh kesederhanaan ini mudah-mudahan mengalir menuju lautan kebahagiaan.
Rabu, Mei 13, 2009
MEREKA MENGAJARKAN KITA
Hal yang paling menyedihkan adalah saat kita jujur pada teman kita, tapi dia malah berdusta. Saat dia telah berjanji pada kita, tapi dia malah mengingkarinya.
Dan saat kita memberikan perhatian, namun dia tidak menghargainya.
Biarlah,
Jangan pernah menyesali apa yang terjadi pada kita.
Sebenarnya hal-hal yang kita alami, sedang mengajari kita.
Saat teman kita berdusta, mengingkari janjinya, atau tidak menghargai perhatian yang kita berikan, sebenarnya dia telah mengajari kita agar tidak berperilaku seperti dia.
Bila kita dibutuhkan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan, sebenarnya dia telah mengajari kita untuk menjadi orang yang arif dan santun.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kita alami dalam kehidupan.
Tapi biarlah,
Sebenarnya hal-hal ini sedang mengajari kita untuk melatih kita membersihkan hati dan jiwa, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
KESIA-SIAAN YANG TERSEMBUNYI
Ilmu yang kita miliki akan sia-sia
karena tidak diamalkan
Perbuatan yang kita lakukan akan sia-sia
karena tidak disertai rasa ikhlas
Pengorbanan yang kita lakukan akan sia-sia
karena mengharapkan pujian
Cinta yang kita berikan akan sia-sia
karena dilandasi oleh syahwat semata
Kegagalan yang kita alami akan sia-sia
karena dijadikan alasan keputus-asan
Musibah yang kita jumpai akan sia-sia
karena tidak menjadikan kita semakin tangguh
Kesuksesan yang kita raih akan sia-sia
karena membuat kita semakin sombong
Pengetahuan yang kita serap akan sia-sia
karena sekedar mampir di pikiran
(Sentuhan Kalbu)
Senin, Mei 04, 2009
OTO JAPANG
Lebaran Haji kemarin LaOlay datang ke Jakarta. LaOlay menginap di rumah Pak Ngah, adik ayahnya. Sejak kedatangannya di Jakarta, Laolay belum bertemu dengan Pak Ngah, karena Pak Ngah sedang dinas ke luar kota.
Semalam Pak Ngah menelpon LaOlay dan berjanji untuk mengajaknya jalan-jalan dengan oto baru Pak Ngah besok. Girang hati LaOlay mendengarnya.
Sejak lepas Subuh, LaOlay sudah bersiap-siap. Dipilih baju terbaiknya dengan rambut yang disisir rapi ke belakang, klimis dengan minyak rambut Tancho favoritnya. Tak lupa tarompa datuak kebanggaannya yang sudah disemir mengkilat sejak semalam.
Matahari sudah mulai tinggi, tapi Pak Ngah belum juga datang. Butiran keringat mulai membasahi wajahnya.
Tiba-tiba.... Berdesir darah LaOlay tatkala melihat sebuah kotak besar putih mengkilat muncul dari balik tikungan, berjalan mendekati dirinya dan berhenti persis di depannya!
Lebih terkejut lagi LaOlay, sampai terdorong tubuhnya ke belakang, ketika pintu tengah benda itu terbuka sendiri !
Hhh.... jantung LaOlay yang berdebar, perlahan kembali normal, melihat di dalam benda itu ada satu wajah yang sangat dia kenal..., Pak Ngah.
Oooo...rupanya ini oto baru Pak Ngah.
LaOlay bersemangat untuk segera masuk ke dalam oto, tapi tiba-tiba diurungkannya. Karena mendadak terngiang teriakan Mak di kampung,"Lapehkan tarompa waang, Lay...!", setiap kali Mak selesai mengepel lantai kayu rumah mereka.
"Masuaklah Lay,dipakai sajo tarompanyo,"ajak Pak Ngah, ketika melihat LaOlay hendak membuka tarompa nya.
Disalaminya Pak Ngah dengan hormat, dan duduklah LaOlay di kursi samping kursi Pak Ngah. Nyaman....sekali kelihatannya. Sampai-sampai LaOlay tidak menjawab ketika ditanyakan kabarnya.
Kepala LaOlay berputar ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang,
menelusuri setiap bagian yang ada di dalam oto. Pandangannya berhenti di sebuah kotak kecil yang menggantung di bagian tengah.Lagi-lagi LaOlay terkejut, karena tiba-tiba kotak kecil itu mengeluarkan suara dan gambar. Pak Ngah tersenyum simpul. Tapi LaOlay tidak terlalu tertarik. " Hampir sama dengan TV Pak Ngah dirumah," gumamnya dalam hati.
Daritadi ada satu hal yang sangat membuat LaOlay penasaran. Terdengar ada suara perempuan berbicara, tapi dengan bahasa yang sama sekali aneh buat LaOlay. Mau bertanya ke Pak Ngah, malu. Ditengoknya tempat duduk di depan, kosong. Hanya ada mereka bertiga. Dirinya, Pak Ngah, dan laki-laki berbaju safari. Baju yang sering dipakai Pak Wali Nagari setiap kali ceramah di depan warganya. Lalu suara siapa itu????

Pak Ngah dapat membaca pikiran LaOlay. Dimintanya laki-laki berbaju safari tadi untuk menepikan oto dan berhenti. Pak Ngah mempersilahkan LaOlay untuk pindah ke kursi depan. Belum sempat tangannya menyentuh handel pintu, pintu itu sudah terbuka sendiri, bergeser!, bukan terbuka ke samping seperti yang LaOlay tahu. Tapi LaOlay sudah lebih siap, tidak terlalu terkejut.
Disalaminya dengan hormat laki-laki berbaju safari tadi, yang belakangan LaOlay baru tahu bahwa laki-laki itu adalah Pak Yusup, supir Pak Ngah.
LaOlay tengah menikmati "singgasana"nya. Mobil, motor, apalagi sepeda, tampak kecil dari atas oto ini. Keasyikannya kembali terusik oleh suara perempuan berbahasa aneh tadi. Setelah dia perhatikan, ternyata suara itu berasal dari kotak layar kecil yang ada di dasbor depan. Layar itu bergambar seperti gambar peta denah desa yang ada di kantor Pak Wali Nagari. Tapi bedanya, gambar ini bergerak.
Pak Yusup menerangkan bahwa itu adalah peta dimana lokasi mereka sekarang. Dan panah yang bergerak-gerak itu adalah oto ini. Yang membuat LaOlay bingung, di dalam layar tampak gambar laut/danau. Padahal posisi mereka saat ini ada di daerah pegunungan. Dan setiap Pak Yusup berbelok, yang kebetulan tampak di layar ada gambar danau/laut, si perempuan berbahasa aneh itu memekik! Dan terdengar seperti mengomel.

Hanya 3 kata yang bisa ditangkap jelas oleh LaOlay, yaitu Hidari, Migi, dan ... Ne...! Begitu terjadi berulang-ulang. Diliriknya Pak Yusup, tampak tenang-tenang saja, malah tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba....begitu di layar tampak gambar laut yang luas dan terlihat anak panah itu (oto kami) menyeberanginya...., si perempuan berbahasa aneh itu berteriak makin keras!! Terdengar seperti orang cemas atau malah marah-marah...
LaOlay tampak lebih cemas dan menengok ke belakang menatap Pak Ngah penuh tanya.
Bersemu pipi LaOlay setelah mendengar penjelasan Pak Ngah bahwa itu adalah peta lokasi di Jepang.

Karena sibuk, Pak Ngah belum sempat mengganti programnya ke lokasi di Indonesia...he he he
Dalam perjalanan pulang, LaOlay tertidur pulas dibuai musik Saluang yang diputar Pak Ngah, dan sejuknya pendingin ruangan.
Tidak dihiraukannya lagi pekikan berulang perempuan berbahasa aneh itu, setiap oto Pak Ngah "berenang" di laut atau tampak akan menabrak gunung....
Sesampainya di rumah Pak Ngah, LaOlay diam saja tidak berusaha untuk membuka pintu oto. Kali ini LaOlay tersenyum penuh kemenangan, karena dia tidak terkejut lagi.
Tapi....begitu sebelah kakinya hendak menyentuh bumi...."Arigato Gozaimashita !" teriak perempuan berbahasa aneh itu lagi...!!

!#&*@$!!
Jumat, Mei 01, 2009
"KEMENAKAN DEN.....! " (bag.3 - Tamat)
Sudah hampir satu jam kami berbincang. Baru kusadari bahwa suara mamak berubah. Suara yang biasanya menggelegar, sekarang berubah mengecil seperti suara perempuan. Rupanya disebabkan oleh sakit batuk yang tak kunjung sembuh, pita suara mamak retak. Perubahan itu sempat menyebabkan mamak kehilangan rasa percaya diri. Sosok lelaki tegar dengan suara menggelegar, sudah berubah menjadi lelaki tua yang sudah pasrah dengan ketentuan Yang Kuasa.
Dengan berat hati aku permisi pulang. Mamak memelukku erat...sekali, seolah enggan untuk melepaskanku.Aku pun demikian. Pelukannya yang erat serasa pelukan yang terakhir. Karena kami berdua tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kutinggalkan rumah mamak tanpa menoleh lagi ke belakang.
Satu tahun berselang, aku berdiri lagi di depan pintu rumah mamak. Pandanganku menyapu ke seluruh sudut ruangan. Suasana tampak sedikit berbeda. Meja kursi dipinggirkan, karpet terbentang memenuhi ruangan. Beberapa kerabat tampak di sana, melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Yasin. Kutemukan wajah etek di antara mereka, menatapku lembut. Kuhampiri dan kurengkuh tubuh kecilnya ke dalam pelukanku. Tiada air mata di wajahnya, yang ada hanya senyuman, senyum keikhlasan.
Saat kumelangkah meninggalkan rumah mamak malam itu, kehangatan angin malam seolah mengiringiku pergi.Memberikan perlindungan yang tidak pernah berhenti. Dimanapun dan sampai kapanpun. Akan kupegang amanah yang pernah mamak berikan. Karena aku tahu, di "sana" pun mamak akan selalu berteriak bangga,"Kemenakan Den...!, kemenakan Den...!"
Dengan berat hati aku permisi pulang. Mamak memelukku erat...sekali, seolah enggan untuk melepaskanku.Aku pun demikian. Pelukannya yang erat serasa pelukan yang terakhir. Karena kami berdua tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kutinggalkan rumah mamak tanpa menoleh lagi ke belakang.
***
Satu tahun berselang, aku berdiri lagi di depan pintu rumah mamak. Pandanganku menyapu ke seluruh sudut ruangan. Suasana tampak sedikit berbeda. Meja kursi dipinggirkan, karpet terbentang memenuhi ruangan. Beberapa kerabat tampak di sana, melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan Yasin. Kutemukan wajah etek di antara mereka, menatapku lembut. Kuhampiri dan kurengkuh tubuh kecilnya ke dalam pelukanku. Tiada air mata di wajahnya, yang ada hanya senyuman, senyum keikhlasan.
Saat kumelangkah meninggalkan rumah mamak malam itu, kehangatan angin malam seolah mengiringiku pergi.Memberikan perlindungan yang tidak pernah berhenti. Dimanapun dan sampai kapanpun. Akan kupegang amanah yang pernah mamak berikan. Karena aku tahu, di "sana" pun mamak akan selalu berteriak bangga,"Kemenakan Den...!, kemenakan Den...!"
Langganan:
Komentar (Atom)














